Studi
baru-baru ini mengenai penggunaan metafora dalam bahasa (yang diucapkan) serta
berbagai bahasa isyarat menunjukkan bahwa beberapa tipe metafora sulit untuk disampaikan
dalam bahasa isyarat. Studi tersebut yang dilakukan oleh Dr. Irit Meir dari
Universitas Haifa membawa pencerahan pada hubungan antara dua konsep yang
memainkan peran penting dalam bahasa dan komunikasi, ikonisitas dan metafora. Studi
ini menunjukkan bahwa ikonisitas dari suatu bentuk bisa mendesak perluasan
ekspresi metafora yang dapat diambil oleh bentuk tersebut. Dengan kata lain,
ekspresi metafora tertentu dalam bahasa tidak dapat "secara langsung
diterjemahkan" ke dalam bahasa isyarat apabila bentuknya ikonik. Demikian
seperti yang dikutip dari Science Blog, Jumat (10/12/10).
Bahasa
isyarat merupakan bahasa natural dengan struktur tata bahasa serta kosakata
yang kompleks dan kaya. Bahasa isyarat
kaya akan penggunaan metafora. Akan tetapi cukup sering, ketika mencoba
untuk menerjemahkan metafora dari bahasa ke bahasa isyarat, kita menemukan
bahwa tidak mungkin menggunakan kata yang sama. Sebagai contoh, tidak mungkin
menggunakan tanda FLY (dalam Bahasa Isyarat Israel dan Bahasa Isyarat Amerika)
dalam ekspresi "time flies" atau "the day just flew by".
Penggunaan metafora kata seperti FLY tidak mungkin karena bentuk tanda ini,
khususnya ikonisitasnya. Tanda untuk FLY dihasilkan dengan menggerakkan tangan
seakan-akan mengepakkan sayap. Akan tetapi dalam ekspresi "time
flies", kami tidak bermaksud bahwa waktu mengepakkan sayapnya. Metafora
tersebut lebih condong dibangun pada suatu implikasi aksi terbang (flying),
yaitu bahwa hal tersebut merupakan cara pergerakan yang sangat cepat. Jadi ada
ketidakcocokan antara apa yang dikodekan dalam bentuk tanda (wing flapping) dan
aspek arti di mana metafora itu dibangun (pergerakan cepat).
Ketika
ketidakcocokan itu terjadi, penggunaan metafora tidak mungkin. Komponen arti
yang direfleksikan dengan bentuk verba (ikonik dan komponen arti yang berfungsi
sebagai dasar penggunaan metaforanya harus sama. Jika tidak sama, maka tanda
tersebut tidak dapat digunakan untuk penggunaan metafora tertentu dalam
pertanyaan. Oleh karena itu, tanda ikonik lebih dibatasi pada perluasan
metafora yang dapat dijalaninya daripada tanda non ikonik, karena bentuknya
tidak berubah-ubah. Pengaruh ikonisitas pada metafora lebih mencolok pada
bahasa isyarat, karena kemampuannya yang lebih baik untuk mengungkapkan banyak
konsep secara ikonik. Dengan demikian, bahasa isyarat bersifat instrumental
dalam memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang metafora dan daya yang
membentuknya. Studi tersebut yang berjudul "Iconicity and metaphor:
Constraints on metaphorical extension of iconic forms," dipublikasikan
pada edisi Desember 2010 di jurnal Language.
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar